Drainase Bermasalah, Banjir Masih Mengintai Sukarame 

Intisarinews.co.id – Persoalan lingkungan di Kelurahan Sukarame, Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung kini tak lagi persoalan sampah. Namun saat ini kerap terjadi Banjir.

Pasalnya, Di tengah kondisi kebersihan yang dinilai semakin baik, ancaman banjir dan genangan justru masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi masyarakat.

Sejumlah titik di kawasan Sukarame, khususnya di sekitar depan dan belakang Kampus UIN Raden Intan Lampung, masih kerap dilanda genangan saat hujan turun. Kondisi tersebut diduga kuat dipicu oleh kapasitas drainase yang terbatas, pendangkalan saluran, serta banyaknya rumput liar dan sedimentasi yang menghambat aliran air.

 

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara tim pengumpul data RTL IMM, aktivitas masyarakat di Kelurahan Sukarame terbilang cukup tinggi. Kawasan ini menjadi salah satu pusat permukiman, perdagangan, hingga akses pendidikan. Tingginya aktivitas tersebut membuat kebutuhan terhadap sistem pengelolaan lingkungan dan infrastruktur yang memadai semakin mendesak.

 

Dari hasil wawancara dengan sejumlah warga dan pedagang, persoalan utama yang paling banyak dikeluhkan bukan lagi tumpukan sampah, melainkan buruknya kondisi drainase.

 

Rosali, salah seorang juru parkir di kawasan depan Kampus UIN Raden Intan Lampung mengatakan, banjir pernah terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama lebih dari dua jam. Ketinggian air bahkan disebut mencapai sekitar 50 sentimeter.

 

“Penyebab utama banjir bukan karena sampah, tetapi saluran drainasenya belum mampu menampung debit air dari wilayah yang lebih tinggi. Drainase di sekitar kampus UIN RIL juga kecil dan sering dipenuhi rumput, dedaunan, serta ranting sehingga aliran air terhambat,” kata Rosali.

 

Menurutnya, genangan air yang berulang juga mempercepat kerusakan jalan. “Sejumlah ruas jalan, terutama di sekitar Apotek 24 Sukarame, disebut lebih cepat berlubang dan rusak. Kondisi ini dikhawatirkan meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengguna jalan,” ucapnya.

 

Keluhan serupa disampaikan seorang pedagang cireng yang berjualan di kawasan depan kampus. Ia menuturkan, kondisi lingkungan pada pagi hari relatif bersih karena sampah rutin diangkut petugas. Para pedagang juga turut berpartisipasi melalui iuran kebersihan sebesar Rp2.000 per hari.

 

Namun, persoalan kembali muncul pada sore hari ketika sampah mulai menumpuk. Menurutnya, pengangkutan sampah yang hanya dilakukan satu kali sehari belum sepenuhnya mampu mengimbangi aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.

 

“Selama saya berjualan belum pernah ada pengerukan lumpur atau pembersihan saluran drainase. Saya berharap pemerintah bisa melakukan normalisasi drainase secara berkala agar genangan air dapat diminimalkan,” ungkapnya

 

Sementara, Ketua RT 007 Kelurahan Sukarame mengungkapkan, sebagian besar warga telah memanfaatkan layanan pengangkutan sampah SOKLI atau Satuan Operasional Kebersihan Lingkungan.

 

“Layanan tersebut dilakukan secara rutin satu hingga dua kali dalam sepekan,” urainya

 

Meski demikian, kata dia, koordinasi antara masyarakat dan petugas kebersihan dinilai masih perlu diperkuat agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih optimal.

 

“Daerah sini sering banjir walaupun hujannya tidak terlalu deras karena drainasenya dangkal dan airnya sulit mengalir. Pemerintah sebaiknya melakukan pendalaman saluran drainase agar aliran air lebih lancar,” katanya.

 

Bahkan, Selain faktor infrastruktur, rendahnya kesadaran sebagian masyarakat juga masih menjadi persoalan. Sampah masih ditemukan berserakan di sejumlah titik, terutama pada pagi hari di kawasan belakang kampus.

 

Namun, kondisi lingkungan di Kelurahan Sukarame tidak sepenuhnya seragam. Di kawasan Perumahan Griya, sistem pengelolaan sampah dinilai berjalan cukup baik dan relatif minim genangan. Meski demikian, partisipasi warga dalam kegiatan gotong royong masih perlu ditingkatkan.

 

Dari hasil keseluruhan observasi, persoalan lingkungan di Kelurahan Sukarame saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh belum optimalnya infrastruktur drainase dibandingkan persoalan sampah. Pendangkalan saluran, sedimentasi, rumput liar, serta keterbatasan kapasitas drainase menjadi faktor yang berpotensi memperparah genangan saat hujan deras.

 

Karena itu, pemerintah diharapkan melakukan normalisasi drainase secara berkala, mulai dari pengerukan sedimentasi, pembersihan rumput liar dan sampah, hingga pelebaran saluran di titik-titik rawan banjir.

 

Selain pembenahan infrastruktur, penyediaan tempat sampah yang memadai, pengaktifan kembali kegiatan “Jumat Bersih”, serta peningkatan edukasi kepada masyarakat juga dinilai penting untuk menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

 

Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, pedagang, dan petugas kebersihan, Kelurahan Sukarame diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan kondisi lingkungan yang bersih, tetapi juga terbebas dari ancaman genangan dan banjir yang selama ini masih menghantui sejumlah wilayah.

Loading

Related posts

Leave a Comment